Cerpen berjudul "Angan"
Angan
"Bad boy tidaklah seburuk atau sekeren yang kamu pikir."
Di depan kelas X IPS 4, tiga orang siswa duduk sambil membicarakan sesuatu. Ijal, siswa yang memangku gitar kesayangannya angkat bicara setelah melirik sekilas pada teras kelas X IPA.
"Gaes, gue heran deh ama Doni anak IPA 1. Jadi cowok kolot amat."
"Pendiem? Kurang gaul? Gitu maksud, Lo?" Egar mengangkat sebelah alis lalu melanjutkan kalimatnya.
"Gitu-gitu dia jenius, loh."
"Tetep aja, tuh bocah kagak ada asik-asiknya. Tiap berangkat yang dibawa buku. Dih, amit-amit kayak cewek banget," olok Ijal.
Jean yang sejak tadi tenggelam dalam komik terbaru 'One Piece' akhirnya menyahut. "Ya, iyalah. Emang elo, jal. Buku aja gak gablek. Bawanya hape, kerjaan lo ML-an. Bisanya cuma bikin tagihan wi-fi sekolah segunung gara-gara misi semu lo di dunia game itu."
Jean terkadang heran dengan para gamers, sebenernya apa yang mereka cari disana? Hiburankah? Kalo emang hiburan kenapa dimainin setiap saat? Apa mereka gak sadar kalau mereka diem-diem sedang diperbudak? Entahlah Jean memilih tak peduli.
"Ijal... ijal, katanya pengen pinter. Ada PR baru bawa buku, habis itu ider sana ider sini cari jawaban. Rajin baget ya, Jal."
Ijal sama sekali tak memedulikan cibiran teman- temannya. Ia bahkan kembali berkata, "Si kutu buku yang ambisius itu, paling takut predikatnya diambil orang."
Pemuda yang memangku gitar itu tertawa singkat lalu berucap, "Dasar gila pujian."
Egar mengerutkan dahi melihat sikap temannya yang satu ini. Sejak kapan Ijal peduli sama yang kek ginian?
"Jal, Lo ngiri sama Doni?"
"Apaan, Gar? Kagaklah." Elak Ijal sambil memgibaskan tangan di sepan wajah dan tersenyum miring.
"Bohong!" Seru Jean lalu kembali menyambung ucapannya.
"Siapapun pasti pengenlah jadi kayak Doni. Tuh, anak dari SMP sering bawa pulang piala ke rumah. Gak kayak lo, pulang cuma bawa surat panggilan orang tua. Heran gue. Lo kan kembarannya Doni, tapi kenapa jauhnya kek langit sama bumi. Kebangetan!" Ketiganya terdiam untuk beberapa detik.
"Iya, Lo bener Gar. Gue iri ama dia. Dia pinter, sering dipuji orang, dia juga dapet perhatian bokap nyokap. Sedang gue? Cuma makhluk payah yang gak berharga kalo dibandingin ama Doni. Apalah gue, cuma anak SMA bengal yang sepanjang hidup selalu melanggar aturan karena pengen dapet secuil perhatian dari ortunya." Dia tersenyum kecut mengakuinya.
"Gue gak sebrilian Doni. Ya udah gue jadi bobrok aja sekalian, biar bokap nyokap respek ke gue."
"Cara Lo salah, Jal."
"Iya, gue tau." Untuk yang kedua kalinya, Ijal membenarkan apa yang Egar ucapkan.
"Lo, bisa berubah, Jal. Masih ada gue sama Egar yang bakal bantu lo jadi brilian ala Ijal." Celetuk Jean penuh semangat.
Tak tega melihat sahabat bengalnya bersedih. Egar mengangguk setuju terus berkata, "Lo kan pinter musik, Jal. Nah, lo tinggal kembangin dan aktif ikut lomba atau lo bisa ikut audisi. Gue yakin lo bisa jadi brilian di bidang musik."
Ijal menatap lekat gitar di tangannya. Ya, benar apa yang Jean katakan. Ia akan berusaha jadi brilian dengan caranya sendiri.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar