Thnak's Boss
Thank's Boss
Aku membuang napas lelah yang keseratus kalinya. Ha ha... terdengar berlebihan ya? Entahlah, yang jelas aku tak ada waktu untuk menghitungnya. Lebih baik bergerak cepat menyingkirkan tumpukan kertas ini dari mejaku. Ku lirik sekilas jam bermerk Rol*ex silver di tangan kiriku.
"Sial!"
Benar-benar sial. Sekarang sudah jam sembilan malam dan aku masih terjebak di ruangan ini. Kalian tahu ini hari apa? Hari sabtu. Hari yang seharusnya ku gunakan untuk berleha-leha di rumah. Tapi, Si boss keparat itu membuatku tak bisa bermalam minggu untuk ketiga kalinya.
Bulan ini memang sangat mujur bagi perusahaan tempatku bekerja. Keuntungan yang di dapat mencapai tiga ratus persen dari biasanya. Beruntung bukan? Tapi tidak dengan para karyawan. Mereka dituntut bekerja lebih keras dan lebih lama. Lembur? Ya, tentu saja mereka mendapatkannya begitu juga denganku.
Tapi, mereka tak sampai bekerja di hari sabtu dan minggu sepertiku. Menjadi sekertaris dari CEO perusahaan ini membuatku mau tak mau harus ikut kemanapun keparat itu pergi untuk menemui kliennya. Seperti tiga minggu ini, aku harus mengekori kemanapun dia menemui 'uangnya'.
Huh, dasar pria materialistis. Aku masih bisa mendengar dengan jelas nada songon khas Demian Fanino saat bicara padaku tadi pagi.
"Ayolah, vin. Nikmati masa kejayaan perusahaan ini. Aku akan menggaji dan membayar lemburanmu tiga kali lipat khusus bulan ini. Jadi, kau harus ikut!"
Aku terkekeh mengingatnya. Pria tiga puluh tiga tahun itu tak akan bisa mengerti masalahku. Berkutat di dunia bisnis dari titik terendah, hingga saat ini memang menghasilkan buah yang begitu manis untuk perusahaan miliknya. Sangat disayangkan, hal itu juga membuatnya begitu jauh dari kehidupan asmara.
Meski sudah bersahabat sejak SMP, sekalipun aku tak pernah melihat dia dekat dengan seorang gadis. Terkadang aku heran dengannya. Namun, aku bisa apa? Itu kehidupan pribadinya aku tak berhak ikut campur. Lagi pula itu tak penting bagiku.
Sekarang aku harus segera pergi dari sini, lalu menemui Wina. Bagaimana Wina akan percaya keseriusanku menjalin hubungan, kalau aku saja melanggar janji untuk datang ke apartemennya malam ini. Walau sudah terlalu malam, setidaknya aku harus tetap datang menemui wanita itu meski hanya berdiri di depan pintu apartemennya.
Ku langkahkan kaki menuju sofa putih setelah melirik Damian yang tertidur pulas di atas benda empuk itu. Benar-benar boss yang menyusahkan. Dia enak-enakan tidur, sementara sekertaris sekaligus sahabatnya ini masih disibukkan pekerjaan. Aku sedikit meragukannya, apa benar Boss kampret ini mendukung hubunganku dengan Wina, adik angkat Damian?
"Dam, bangun. Kampret bangun gak, lo!"
Ku lihat, tak lama setelah mengguncang kakinya, Damian yang masih lengkap dengan setelan kantor perlahan membuka kedua mata. Dia berdecak kecil lalu duduk sambil bersandar di sofa. Aku tak punya banyak waktu untuk menunggunya saat ini.
"Gue mau ba--"
"Nemuin, Wina?" Aku memutar bola mata kesal. Si kampret ini selalu saja menyela kalimat orang. Menyebalkan sekali.
"Cuma itu doang permintaan, lo?"
Aku mendengus kasar. Kenapa dia tolalit sekali? Pagi tadi aku sudah membicarakan hal ini, meminta izin dan dia sendiri yang mengizinkan. Pake acara bertanya lagi. Dan kini, Damian merusak langkah terakhirku mendapatkan Wina yaitu, melamar gadis itu malam ini.
"Tadinya iya, tapi karena rencana pertemuan gue sama Wina malam ini hancur. Lo harus bantu gue, bilang ke Wina kalo gue terlambat karena ulah, lo."
Ku lihat Damian menghela napas kasar. Tangannya meraih ponsel di meja, mengotak-atik sebentar. Lalu menjawab, "Cepet sono pergi. Gue bakal bilang ke Wina."
Tanpa berlama-lama aku berlari menuju parkiran. Wina sayang, aku datang.
Tanpa berlama-lama aku berlari menuju parkiran. Wina sayang, aku datang.
•••
Aku berdiri di depan pintu apartemen Wina dengan degup jantung yang terus berpacu. Keringat dingin mendadak membanjiri seluruh tubuh, ku harap hal ini tak membuat badanku bau. Dengan satu tarikan napas, aku memencet bel.
Oke satu kali lagi. Wina, seperti yang aku bilang sebulan lalu. Aku mencintaimu, sejak lama. Terima lamaranku. Maaf aku hanya bisa melakukan ini untuk sekarang. Jika, kamu menerimaku. Kita akan melangsungkan pesta pertunangan secepat mungkin.
Cklek
Tepat saat aku selesai berlatih bicara dalam hati. Wina keluar dengan balutan baju tidur lengan panjang berwarna biru. Sungguh, aku merindukan gadis 28 tahun ini.
"Wina, aku mencintaimu. Maukah kamu menerima lamaranku?"
Kalimat macam apa yang kau katakan, kevin?
Aku merutuki kebodohanku. Tak ada respon dari wina. Ia memandang datar pada cincin yang aku sodorkan padanya. Hening mendera suasana di lorong apartemen. Aku terlalu sibuk menetralkan degup jantungku yang menggila. Tak ada yang bisa kulakukan untuk membunuh kesunyian ini. Bibirku terasa kaku meskipun hanya sekedar untuk digerakkan.
"Ya, tadi kak Damian sudah menelponku."
"Ya, tadi kak Damian sudah menelponku."
Dia masih saja memandang cincin, tanpa mau menatap mataku. "Apa kamu memaafkanku? Dan maukah kamu menerima lamaranku, Wina?"
Gadis itu kini menatapku tanpa berkata apapun. Mata indah itu aku menyukainya. Dia... sangat sempurna dimataku. Wajah cantiknya perlahan menampakkan senyum lalu mengangguk kecil.
"Aku memaafkanmu, Kevin. Dan... aku menerima lamaranmu."
Aku yang mendengarnya reflek memeluk tubuh gadis dihadapanku. "Terima kasih, Wina. Aku menyayangimu."
Tubuh mungil ini, aku berjanji akan terus melindunginya. Aku tak akan menyiayiakan cinta yang telah ku perjuangkan selama sepuluh tahun. Ya, aku berjanji Wina.
"Ekhem... Wina tadi kamu bilang ngantuk. Cepat, tidur sana."
Suara itu membuat aku melepaskan pelukan. Hahhh... Orang ini. Bisakah dia sekali saja tak mengganggu hidupku? Tiba-tiba muncul, tiba-tiba menghilang. Karena terlalu fokus melempar tatapan kesal pada Damian, membuatku tak sadar kalau pintu apartemen Wina sudah tertutup rapat.
Sayang sekali, padahal aku belum memakaikan cincin padanya. Kuputuskan untuk memasukkan kembali kotak merah pada saku jas.
"Damian stop!" Teriakanku berhasil menghentikan langkah kakinya. "Thank's Boss."
Tak ada respon apapun. Si boss kampret Damian yang juga sahabatku itu hanya mengacungkan jempol kanannya, lalu terus berjalan dan menghilang dibalik pintu apartemen.
Ya, Kevin rasa dia perlu berterima kasih pada sahabatnya itu.
● TAMAT ●
Hola, aku berterima kasih buat kamu yang udah baca cerpen ini sampai tamat. Ini cerpen kedua yang aku buat setelah cerpen pertama yang judulnya "Angan", ceritanya tentang bad boy lohh...
Komentar
Posting Komentar